Inovator Muda, Genggam Prestasi dalam Tanganmu
INOVATOR MUDA, GENGGAM PRESTASI DALAM TANGANMU

Ratusan peneliti muda dunia memamerkan karya invensi mereka dalam
ajang 10th International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2014.
Kegiatan besutan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mengusung
tema “Creating a Better Future through Innovation”. International
Exhibition for Young Inventors (IEYI) merupakan ajang pameran
kreativitas invensi remaja tahunan bertaraf internasional yang
diselenggarakan sejak 2004 silam di Jepang.
Ajang ini menampilkan ratusan karya invensi/penemuan para remaja dari
berbagai negara di dunia. Pada penyelenggaraan tahun ini, Indonesia
melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dipercaya sebagai tuan
rumah. Penyelenggaraan IEYI kali ini memasuki tahun ke-10 dengan
mengambil tema “Creating a Better Future through Innovation”. Kegiatan
tersebut akan berlangsung di Gedung SMESCO Convention Center Jakarta
pada 30 Oktober hingga 1 November 2014.
Ajang IEYI dirintis berdasarkan hasil pertemuan The International
Forum of Intelectual Property (IFIP) yang terbentuk di Tokyo Jepang pada
bulan November 2003. Pertemuan tersebut diinisiasi oleh Japan Institute
of Invention and Innovation (JIII). “Salah satu hasil dari pertemuan
itu adalah kesepakatan pelaksanaan IEYI sebagai bentuk dukungan terhadap
remaja di bidang iptek,” ungkap Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar
Zulkarnain.
Iskandar menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang
berpartisipasi dalam IEYI. Partisipasi para peserta dalam IEYI, kata
Iskandar, menunjukkan tingginya animo kaum muda untuk berinovasi dengan
memanfaatkan sains dan teknologi.
“Tujuannya bukan untuk diaplikasikan, tapi untuk membangun networking
dan membangkitkan semangat para inventor muda. Kompetisi apalagi di
tingkat internasional ini juga jadi cara meningkatkan membangun rasa
ingin tahu para pelajar,” ujar Iskandar.
Iskandar menjelaskan bahwa tujuan penyelenggaraan IEYI secara umum,
antara lain untuk meningkatkan motivasi remaja dalam menumbuhkembangkan
ide-ide kreatif dan inovatif melalui penemuan mereka. Kemudian,
meningkatkan daya tarik remaja untuk berkreasi di bidang iptek. “Tujuan
lainnya adalah menumbuh-kembangkan sikap berani berkompetisi di ajang
internasional pada kalangan remaja dan memberikan wadah bagi mereka
untuk saling berbagi pengalaman dan informasi terkait invensi bidang
iptek,” tuturnya.
Menurut Iskandar, semangat berinovasi dan rasa ingin tahu dalam diri
para pelajar harus terus dikembangkan. Meskipun masih dalam bentuk
sederhana, semangat untuk menjawab persoalan di sekitar dengan cara
sederhana itu yang harus dipertahankan.
“Rasa ingin tahu tinggi dan diikuti oleh upaya itu yang perlu terus
kita dorong. Bagaimana mereka melanjutkan apa yang telah dimulai.
Seperti kata Einstein, jangan pernah berhenti bertanya karena rasa
penasaranlah yang membuat kita tetap eksis,” imbuhnya.
Sejak diselenggarakan pertama kalinya, Iskandar melanjutkan, IEYI
telah menampilkan ribuan penemuan remaja termasuk invensi dari para
remaja Indonesia. Dalam setiap penyelenggaraannya, invensi-invensi
terbaik memperoleh apresiasi berupa medali emas, perak dan perunggu
melalui sistem penjurian. Pada penyelenggaraan tahun lalu di Malaysia,
Indonesia sendiri meraih tiga emas dan dua perak.
Ketua Dewan Juri IEYI dan Kompetisi Ilmiah LIPI, Dr. Laksana Tri
Handoko mengungkapkan, proses penjurian IEYI tahun ini tentu tidak jauh
beda dengan penyelenggaraan sebelumnya. “Tim Dewan Juri berasal dari
Indonesia dan internasional yang terseleksi,” kata Laksana
Handoko mengatakan, ajang IEYI kali ini diikuti oleh belasan negara
dari berbagai belahan dunia. Negara-negara tersebut adalah Jepang,
Mesir, Nigeria, Taiwan, Hongkong, Filipina, Malaysia, Thailand, India,
Iran dan Indonesia. “Para peserta merupakan inovator remaja berusia
maksimal 18 tahun. Mereka bisa secara individu maupun kelompok dengan
maksimal dua inovator,” jelasnya.
Terdapat 202 invensi yang ikut berkompetisi dalam ajang IEYI 2014.
Mereka terdiri atas 60 invensi dari Indonesia dan 142 invensi dari luar
negeri.
Peserta IEYI 2014 merupakan pelajar dari tingkat SD hingga SMA dengan
usia maksimal 18 tahun. Mereka bisa berpartisipasi secara individu
maupun kelompok dengan maksimal dua inventor.
Berbagai inovasi dalam IEYI 2014 terdiri atas enam kategori, yakni
penanganan bencana, pendidikan dan rekreasi, pangan dan agrikultur,
teknologi hijau, keamanan dan kesehatan, serta teknologi bagi orang
berkebutuhan khusus. Selain IEYI, LIPI juga menggelar Lomba Karya Ilmiah
Remaja (LKIR) dan National Young Invention Awards (NYIA).
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Iskandar
Zulkarnain mengatakan, meskipun baru berupa penelitian sederhana,
semangat berinovasi dan rasa ingin tahu para inventor muda itu harus
terus dikembangkan.
“Semangat untuk menjawab persoalan di sekitar dengan cara sederhana itulah yang harus dipertahankan,” ujar Iskandar.
Menurut Iskandar, animo kaum muda untuk berinovasi dengan
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) perlu terus dipacu.
Khususnya, agar pemuda Indonesia lebih bersemangat dalam berkompetisi di
tingkat internasional.
“Kompetisi dalam skala global adalah langkah untuk membangun rasa
percaya diri dan rasa ingin tahu para remaja. Sehingga, mereka akan
lebih maju dalam berinovasi,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Juri IEYI dan Kompetisi Ilmiah LIPI Dr.
Laksana Tri Handoko mengatakan, invensi-invensi para remaja yang tampil
dalam ajang IEYI, LKIR, dan NYIA kali ini terbilang unik serta menarik.
Berbagai inovasi tersebut dikelompokkan menjadi enam kategori yaitu
disaster management, education and recreation, food and agriculture,
green technology, safety and health dan technology for special needs.
“Dewan juri berupaya seobjektif mungkin untuk menentukan pemenang
dari ratusan invensi tersebut. Selain tiga medali yang akan dibagikan,
ada pula Special awards dari beberapa negara perwakilan,” ujar Deputi
Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI ini.
Delegasi Republik Indonesia (RI) menyumbang 18 medali pada ajang
International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2014. Ke-18 medali
itu terdiri dari dua medali emas, lima medali perak, dan 11 medali
perunggu.
Dalam ajang pameran invensi bagi siswa SD hingga SMA tersebut,
peserta hadir dari berbagai negara. Mereka memperebutkan 20 medali emas,
27 medali perak, dan medali 33 perunggu. Pada IEYI tahun lalu di
Malaysia, Indonesia meraih tiga medali emas dan dua medali perak.
Berikut ini adalah para pemenang IEYI 2014 yaitu:
1. Medali Emas
Inventor dari Indonesia yang menyabet dua medali emas yaitu:
- Dayu Laras Wening dan Luthfia Adila meraih
medali emas dalam kategori Food and Agriculture. Invensi mereka adalah
Stick of Borax Detector (Sibodec).
- Medali emas lainnya diraih oleh Naufal
Rasendriya Apta R dan Archel Valiano. Mereka menang dalam kategori
Safety and Health dengan invensi Sign Lamp Helmet Automatically: ‘Safety
Standard for A Motorcycle’.
Ke-18 medali emas lain diraih oleh Taiwan (13 medali), Jepang (dua
medali), Malaysia (satu medali), Thailand (satu medali), dan Filipina
(satu medali).
2. Medali Perak
Lima medali perak Indonesia disumbangkan oleh:
• Muhammad Arifin Dobson di kategori Green Technology dengan invensi EcoSol SunHarvester-Energy Efficient Solar Thermal;
• Ahmad Jaka Ismaya dan Muhammad Togar Arif, dari kategori Safety and Health dengan invensi Keyless Security System;
• Nurina Zahra Rahmati dan Tri Ayu Lestari dari kategori Safety and Health dengan invensi Bracelet Anti-Kidnapping (Baking);
• Rezkita Ramadhani Rudjito dan Sefira Firdianti Putri Fuadi dari
kategori Safety and Health dengan invensi The Usage of Papaya Leaves
Extract, Archidendron; dan
• Baskara dari kategori Safety and Health dengan invensi Electronic Wet Floor Sign.
Ke-22 medali perak lainnya diraih Taiwan (16 medali), Thailand (dua
medali), Jepang (satu medali), Malaysia (dua medali), dan Filipina (satu
medali).
3. Medali Perunggu
Dari 33 medali perunggu, Indonesia hanya mendapat 11 medali perunggu. Peraihnya adalah:
• Kategori Technology for Special Needs, Muhammad Hanif Sugiyanto dan Swakresna, nama invensi iBlind;
• Kategori Safety and Health, Akbar Bagas dan Kenny Reida Dharmawan, nama invensi Advanced Warning System (AWAS);
• Kategori Safety and Health, Weni Sirait, nama invensi Simple Way to Distinguish Fresh and Used Unbranded Cooking;
• Kategori Safety and Health, Leonardo dan Alvin Clarence, nama invensi Anti-Theft Alarm for Motorcycle’s Safety;
• Kategori Safety and Health, Muhammad Syahrul Nizam, nama invensi Borax/Formaline Test Kit;
• Kategori Safety and Health, Annisa Puteri Raka, nama invensi Santiling;
• Kategori Green Technology, Budiman Mansur Halim dan Fernando Augustin, nama invensi Air Population Reducer Device;
• Kategori Food and Agriculture, Linus Nara Pradhana, nama invensi Smart Pot;
• Kategori Food and Agriculture, Alan Satria dan Felix Wibysana
Budianto, nama invensi IONS Canteen: Web based Application to Solve
Transaction;
• Kategori Green Technology, Dwi Puji Rahayu dan Retno Arfianti, nama invensi Candle Forever; dan
• Kategori Technology for Special Needs, Baskara, nama invensi Smart Water Gate-2.
• Sisa medali diraih Taiwan (10 medali), Jepang (empat medali),
Thailand (tiga medali), Malaysia (dua medali), Hong Kong (dua medali),
dan Filipina (satu medali).
Inovator-inovator muda Indonesia harus terus didukung, dimotivasi,
dan dimaksimalkan, apalagi jika ide kreatif mereka berguna bagi
masyarakat banyak. Mereka itu juga merupakan harta kekayaan bangsa yang
sangat bernilai.